CAREER DEVELOPMENT CENTER
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta
Bagaimana membangun manusia paripurna?
HUMAN DEVELOPMENT
PlayPause
Shadow
Slider

Belajar Investasi Sejak Muda

Belajar Investasi Sejak Muda Jangan sampai uang yang dihasilkan dari kerja keras sendiri menganggur, apalagi dipakai untuk berfoya-foya.

Penghasilan sendiri belum punya. Uang jajan pun masih menanti kucuran dana dari orang tua. Namun, siapa bilang kita tidak bisa mulai berinvestasi. Jangan merasa terlalu dini untuk mulai mengenal dunia pasar modal. Warren Buffett, pengusaha besar dan investor AS, membeli saham pertamanya di usia 11 tahun. Dan, dia merasa sudah terlambat untuk memulai berinvestasi.

Belajar dari Buffett, kita pun bisa mulai berkenalan dengan dunia investasi. Caranya, bisa dengan mulai belajar berinvestasi. Misalnya saja, investasi lewat dunia pasar modal. Jangan salah, dengan dana minim sebenarnya bisa menjadi modal kita untuk menanam saham dalam sebuah perusahaan melalui pasar modal ini.

Bagi kamu yang ingin memulai perencanaan investasi sedari dini, tetapi belum memiliki banyak modal, tak perlu khawatir. Kini, tepatnya sejak 6 Januari 2014 lalu, untuk membuka akun pasar modal, transaksi saham bisa dimulai dengan setoran awal Rp 200 ribu. Keuntungan menjadi pelaku pasar modal atau sebagai seorang investor sendiri sangatlah banyak. Bagi masyarakat luas di suatu negara, tentu berfungsinya pasar modal akan menunjang pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Keuntungan untuk kita pribadi yang melakukan transaksi saham dalam pasar modal, di antaranya sebagai sarana untuk mengalokasikan sumber dana secara optimal serta menyediakan sumber pembiayaan jangka panjang. Hal ini tentu sangat berguna bagi para generasi muda yang kelak menjadi pelaku industri di masa depan.

Untuk tabungan yang bermanfaat bagi masa depannya, Raisha Saufa mengatakan tertarik untuk berinvestasi di pasar modal. Tetapi, mahasiswa semester 6 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini mengatakan, pada dasarnya investasi harus dilakukan secara cermat.

Raisha menuturkan, saat ini ia masih memilih menginvestasikan uang untuk berbagai kegiatan bisnis dalam jangka waktu pendek, yaitu untuk kurun waktu satu tahun terlebih dahulu. Kemudian, ia akan melanjutkannya dengan investasi jangka panjang, seperti yang dapat dilakukan dalam pasar modal. “Misalnya, investasi dalam waktu lima hingga 10 tahun. Semakin lama waktu investasinya, maka semakin sedikit risikonya,” ujar Raisha.

Senada dengan Raisha, Lulu Diana juga berpendapat demikian. Mahasiswi UNJ jurusan Ekonomi dan Administrasi ini mengaku tertarik dengan keuntungan yang dapat diraih dalam dunia pasar modal. Tentunya, investasi dalam dunia pasar modal bagi perempuan yang akrab disapa Lulu ini dapat menjadi tabungan masa depan yang berguna. Tetapi, ia mengakui, hingga saat ini ia belum mencoba untuk berinvestasi dengan membeli saham.

Selain berencana untuk terjun ke dunia pasar modal, keduanya punya cara lain untuk berinvestasi yang juga menguntungkan. Salah satunya, yakni investasi emas. Selain merupakan logam mulia, emas merupakan sebuah sarana untuk menyimpan uang. Bila suatu saat kita memerlukan dana, kita dapat menjualnya.

Tentu, bila kita menjual emas dalam waktu yang tepat, yaitu saat harganya meningkat, tentu kita bisa mendapatkan keuntungan. Misalkan, kita membeli emas pertama kali, yakni Rp 500 ribu per gram. Dalam beberapa waktu setelahnya, misalnya harga emas berubah menjadi Rp 800 ribu per gram, maka kita bisa mendapat keuntungan Rp 300 ribu dari modal awal yang kita keluarkan.

Raisha menuturkan, ia berminat mengikuti investasi emas karena potensi keuntungan yang cukup besar. Karenanya, ia mengatakan, tengah mengumpulkan modal untuk investasi ini. “Dengan cara menyisihkan uang jajan sekitar 35 persen setiap minggunya. Ini juga berguna untuk simpanan di masa depan dan jajan tambahan,” jelas Raisha.

Lulu pun berpendapat demikian. Emas sangat berguna untuk ditabung sebagai modal masa depan. Melihat potensi keuntungannya yang besar, ia pun berniat untuk mengumpulkan modal dengan cara menyimpan sebagian uang jajannya saat ini dalam bentuk saham dan emas.

Tak hanya investasi emas, menurut Lulu, cara lain yang menguntungkan untuk investasi yaitu dengan berdagang. Menawarkan produk-produk atau jasa yang sedang happening atau menguasai pasar bisa menjadi sumber pendapatan tambahan yang berguna bagi masa depan. “Investasi lain yang menguntungkan bagi aku itu yakni jualan. Tapi, kita harus tahu dulu apa yang mau kita jual. Kalau barang atau jasa itu menguasai pasar, otomatis labanya besar dan dapat terus meningkat,” jelas Lulu. N c66 ed: endah hapsari

 

Memacu Adrenalin dengan Saham

Perencana keuangan, Yuswohady, menegaskan, perencanaan keuangan harus dilakukan sejak muda. Ia juga menambahkan, mahasiswa sendiri masuk ke dalam golongan kelas menengah atau disposable income.

“Ciri kelas menengah itu nggak bisa diam, dan nggak bisa lihat uang nganggur, sehingga ia akan menginvestasikan uangnya dalam berbagai bentuk,” jelasnya. Yuswohady mengatakan, alternatif paling simpel yakni lewat pasar modal, sebab bila mahasiswa berinvestasi dengan membuka toko, maka perlu banyak modal.

Menurutnya, sangat bagus bila anak muda dari awal sudah diperkenalkan dengan mekanisme bursa. Melalui cara ini, para mahasiswa pun dapat belajar sekaligus menambah penghasilan.

Yuswohady menyatakan, mahasiswa merupakan orang paling kreatif serta ideal untuk bermain saham sehingga tak perlu takut bakal rugi. “Mahasiswa mempunyai banyak waktu sehingga bisa bereksperimen dalam permainan bursa saham,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, di bursa saham terdapat nominal minimal tertentu bila ingin berinvestasi sehingga anak muda tinggal menyesuaikannya saja. Hanya dengan beberapa ratus ribu saja, kita sudah bisa belajar berinvestasi di pasar modal.

Lulusan Teknik Mesin dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menyarankan, jika anak muda memang ingin belajar bermain di pasar modal, maka berinvestasilah di bursa saham. Jangan malah memilih berinvestasi di reksadana atau emas.

“Reksadana kan paling aman, di sana sepenuhnya tinggal tunggu karena permainan diserahkan sepenuhnya ke manajemen investasi,” tuturnya. Ia melanjutkan, jika di bursa, kita harus memainkannya sendiri, meliputi mengawasi naik turunnya uang, serta melihat hasilnya.

Menurut Yuswohady, saat teknologi canggih seperti sekarang, bermain saham bagi anak muda justru lebih mudah, sebab bisa langsung diawasi dari smartphone. Ditambah lagi, di bursa saham juga, adrenalin mahasiswa dapat lebih terpacu.

Ia menambahkan, investasi melalui reksadana biasanya dilakukan oleh para pengusaha yang sudah mempunyai banyak uang, namun tak mau repot dan menunggu hasil. Bahkan, beberapa orang menginvestasikan uangnya ke berbagai tempat secara bersamaan, baik ke bursa, reksadana, properti, emas, dan lainnya.

Namun, mahasiswa tak bisa melakukan investasi semacam itu, sebab penghasilannya belum banyak sehingga harus memilih salah satu. Jadi, bila mau belajar pasar modal serta lebih menantang, bermain saham merupakan pilihan tepat.

“Intinya kalau kita ingin mengembangkan dana secara aman, ya melalui reksadana, sedangkan untuk latihan investasi maka di saham,” katanya. Pria yang juga pakar pemasaran ini menyebutkan, jika sudah mampu bermain saham dan uangnya bertambah, maka bisa mencoba investasi lainnya. n c91

 

Bebas Finansial

Siapa yang tidak ingin bisa bebas finansial sejak muda? Perencana keuangan, Yuswohady, mengungkapkan, saat ini berinvestasi di pasar modal telah menjadi tren di kalangan mahasiswa. Menurutnya, anak muda sudah memiliki keberanian, sebab didorong keinginan bisa bebas secara finansial di usia muda.

Bebas finansial sendiri merupakan keadaan yang tak perlu memikirkan keuangan, sebab orang tersebut tak perlu lagi bekerja mencari uang. Justru uanglah yang bekerja untuknya. Yuswohady mengungkapkan, kini banyak anak muda berencana mencapai keadaan itu di usia 40 tahun.

Penulis lebih dari 40 buku tentang keuangan dan pemasaran ini pun menerangkan, sekarang sudah ada 60 persen orang yang berada di golongan kelas menengah, termasuk mahasiswa. Ia menambahkan, pengetahuan mahasiswa tentang investasi juga meningkat berkat internet. “Mahasiswa bisa belajar sendiri, mengerti teknik, serta caranya, kemudian mengaplikasikannya lewat internet,” kata dia.

 Jadi bila uang sudah ada, teknik sudah ada, maka kita sudah mulai dapat berinvestasi.Yuswohady mengingatkan, jangan sampai uang yang dihasilkan dari kerja keras sendiri menganggur, apalagi dipakai untuk berfoya-foya. Dengan kata lain, berinvestasi harus dilakukan sejak dini, walau di awal mungkin tak langsung mendapat keuntungan, tetapi bukan berarti langsung berhenti.

Jangan Lapar Mata

Untuk mulai berinvestasi, pasti dibutuhkan modal. Meski sedikit, kita sebagai anak-anak muda perlu menyisihkan uang agar kemudian bisa dialokasikan sebagai sumber dana di masa depan. Raisha Saufa menuturkan punya cara sendiri untuk menabung sebagian uang jajannya dan berhemat dari perilaku konsumtif. Pertama, ia menyisihkan uang jajan sebanyak 35 persen setiap minggu.

Kedua, ia berupaya agar tidak lapar mata. Hal ini yakni dengan tak banyak menghabiskan uang untuk belanja berbagai hal yang tidak dibutuhkan.

“Terutama para cewek yang memang sering lapar mata membeli barang-barang yang mereka lihat lucu dan menarik padahal tidak berguna. Kalau bisa kurangi lihat online shop yang mudah membuat kita jadi demikian,” kata Raisha. Ia juga menekankan, menyimpan uang, baik di ATM maupun manual, harus dapat menghitung dan mengingat dengan baik apa saja pengeluaran yang sudah kita ambil dari tabungan.

Alangkah baik, bila kita yang memiliki ATM untuk menentukan hari dan jumlah uang yang boleh diambil. Tak hanya itu, kita juga harus membuat evaluasi rincian biaya yang dikeluarkan tiap minggu atau bulan, serta apa saja yang dibutuhkan dalam jangka waktu tersebut.

Lulu Diana pun mengatakan berupaya menahan diri dari penyakit lapar mata. Ini terutama menahan diri dari keinginan membeli makanan-makanan mahal di restoran, padahal kita sudah dalam keadaan kenyang. “Kita harus menahan diri pastinya untuk makanan juga barang yang sering kita temui saat jalan-jalan. Kalau tidak begitu, bagaimana bisa menabung,” ungkap Lulu.

 

sumber:

https://www.republika.co.id/berita/koran/gen-i/15/03/18/nletid-belajar-investasi-sejak-muda-jangan-sampai-uang-yang-dihasilkan-dari-kerja-keras-sendiri-menganggur-apalagi-dipakai-untuk-berfoyafoya

Berita Terbaru

Lowongan Kerja Terbaru

Info Pengembangan Karir

About Us

Career Development Center (CDC) Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarata (FE UNJ).

©2019 CDC FE UNJ. All Rights Reserved.

Search