Terpilihnya Dosen FE UNJ Menjadi Juri PIMNAS 2018

Terpilihnya Dosen FE UNJ Menjadi Juri PIMNAS 2018

Kabar baik sekaligus membanggakan untuk civitas akademika Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta, karena salah satu dosen yang bernama Erika Takidah M.Si, terpilih menjadi juri PIMNAS 2018. PIMNAS adalah singkatan dari Pekan Ilmiah Nasional yang merupakan sebuah ajang kompetisi karya kreatif mahasiswa diploma dan S1 dari bermacam jurusan dan perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Yang diperlombakan adalah proposal yang dibuat oleh mahasiswa yang nantinya akan didanai oleh Kemenristekdikti.

“PIMNAS sendiri itu diharapkan bahwa kita bisa mendorong mahasiswa untuk lebih kreatif dalam memandang akademisnya, kreatif dalam bidang akademis tapi kreatif juga dalam bidang yang lain, misalnya wirausaha, pengabdian masyarakat,” kata Erika.

Sementara itu, terdapat beberapa jenis-jenis dari Program Kreatif Mahasiswa atau PKM, diantaranya adalah PKM Penelitian, jadi mahasiswa diminta untuk melakukan penelitian. Penelitiannya dibagi 2 lagi ada penelitian eksakta, ada juga penilitian sosial humaniora.

Erika T

Doc : google.com

PKM Karya Cipta, karya cipta ini diharapkan mahasiswa menghasilkan produk, dimana produk tersebut membantu problematika masyarakat.”Misalnya dulu pada PKM Karya Cipta, UNJ pernah menang, dia bikin semacam penghalang untuk bis transjakarta di jalur busway tapi otomatis, namanya autocracy (automatic transjakarta security system). Jadi dia bikin sensor otomatis ketika bis transjakarta mau lewat penghalang itu terbuka dan menutup sendiri, jadi untuk menghindari motor atau mobil masuk ke jalur busway,” kata Erika.

PKM Teknologi, yang diharapkan bisa menghasilkan teknologi baru, hampir mirip dengan karya cipta. jika karya cipta itu barangnya sudah harus ada, sedangkan teknologi masih berupa perancangan.

PKM Kewirausahaan, mahasiswa membuat proposal kewirausahaan kemudian nanti diberi dana untuk menjalankan suatu usaha. Dimana diharapkan mahasiswa bisa membuat usaha sendiri.

PKM Pengabdian Masyarakat diharapkan mahasiswa itu bisa peduli dengan lingkungannya yang memberikan sesuatu ke masyarakat yang tadinya bukan masyarakat produktif, lalu mendapatkan ilmu dari kegiatan ini sehinnga  bisa berubah.

PKM Gagasan Tertulis, yaitu bagaimana kita hanya membuat suatu gagasan jadi tidak perlu diwujudkan, yang penting ada alasan dan memungkinkan terwujud ada. “Misalkan gagasan kebijakan impor, ada juga yang membuat gagasan tentang semacam alat bagaimana caranya agar orang tidak jalan terlalu jauh, jadi membuat semacam container besar untuk memindahkan orang misalkan dari unj depan ke unj belakang, jadi seperti lift,” kata Erika.

PKM Artikel Ilmiah, yaitu hasil dari kegiatan mahasiswa dalam pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat yang telah dilakukannya. “Mahasiswa kalo bisa di awal awal semester diminta untuk membuat proposal dengan kelompoknya, di kelempok tersebut kalo bisa beda angkatan atau beda fakultas,“ kata Erika.

Adapun tahapan dalam mengikuti PIMNAS, yaitu membuat proposal yang nantinya proposal tersebut direview di tingkat perguaruan tinggi masing masing. Setelah itu ada upload, nanti proposal tersebut akan di upload lalu direview oleh reviewer yang telah dipilih oleh Kemenristekdikti, yang mana Ibu Erika salah satu yang ditunjuk oleh ristekdikti untuk menjadi reviewer. Namun, para reviewer ini tidak boleh review proposal dari perguruan tinggi tempat dia berkerja. “Seperti  saya ini mereview ratusan proposal tapi tidak ada yang dari unj, karena agar objektif,”  kata Erika.

Pada review pertama itu lebih kepada aturan, jadi banyak sekali mahasiswa yang merasa idenya bagus tapi tidak memikirkan bagaiman membuat proposal yang baik, jadi tidak mengikuti aturan, seperti huruf, spasi, jumlah halaman, penempatan halaman, yang mana justru itu menjadi konsen oleh para reviewer.

“Jadi kita diawal hanya screening saja mana yang tidak mengikuti aturan pembuatan proposal, bayangkan dari sekitar 40.000 proposal yang masuk dari seluruh Indonesia hanya untuk pengecekan tersebut hampir 20.000 hilang, sebanyak itu, padahal mungkin dari yang terbuang itu ada ide yang bagus,” kata Erika

Setelah itu ada penilainan kreativitas, jika terpilih maka akan diberi dana oleh ristekdikti, yang mana pada PIMNAS 2018 yang sudah selesai diselenggarakan ini, ada sekitar 12.000 proposal yang didanai oleh Kemenristekdikti setelah didanai baru dilaksanakan.

“Trik dari saya itu adalah sesuatu yang baru, misalkan di PKM Kewirausahaan  jangan jualan es krim lagi, kerupuk lagi, yang pokoknya sudah banyak banget atau umum. Jadi harus membuat sesuatu yang baru, dan juga tetap memikirkan estetikanya,” ujar Erika. (RA)